6 Syarat Sah Pelaksanaan Shalat Jumat

6-Syarat-Sah-Pelaksanaan-Shalat-Jumat

Syarat Sah Shalat Jum’at Yang Harus Dimengerti – Pada kesempatan kali ini, Dutadakwah akan berbicara tentang shalat Jumah. Yang dalam pembahasan ini secara singkat dan jelas menjelaskan beberapa syarat hukum shalat jumah. Lihat ulasan di bawah untuk informasi tentang cara melakukan ini.

Persyaratan hukum untuk shalat Jum’at yang harus dipahami

Seperti bentuk ibadah lainnya, sholat Jum’at memiliki ketentuan atau persyaratan berbeda untuk keabsahan yang harus dipenuhi baik secara individu maupun secara umum. Jika tidak digenapi, maka shalat Jumat batal. Berikut ini adalah persyaratan hukum untuk melaksanakan shalat Jumat.

 

6-Syarat-Sah-Pelaksanaan-Shalat-Jumat

Berikut Ini Telah Kami Kumpulkan Yang Bersumber Dari Laman https://www.dutadakwah.co.id/ Yang Akhirnya Saya Tuliskan Disini.

 

1. Sholat Jum’at dan kedua khotbah diberikan pada siang hari

Ini berdasarkan hadits:

أَنَّ النَّبِيَّ كَانَ يُصَلِّي الْجُمُعَةَ حِيْنَ تَمِيْلُ الشَّمْسُ

Artinya, “Sesungguhnya Nabi saw sedang melaksanakan sholat Jumat ketika matahari miring ke barat (waktu zhuhur)”. (HR.al-Bukhari dari teman Anas).

Oleh karena itu, tidak sah untuk melakukan shalat Jumat atau khotbah di luar siang hari. Ketika waktu Ashar telah tiba dan masyarakat belum mengambil takbiratul ihram, mereka wajib melakukan takbiratul ihram dengan niat zhuhur. Ketika waktu Zhuhur habis di tengah menunaikan salat Jumat, maka wajib Jum’at sempurna menjadi Zhuhur tanpa memperbaharui niat.

Syekh Habib Muhammad bin Ahmad al-Syathiri berkata:

فَلَوْضَاقَ الْوَقْتُ أَحْرَمُوْا بِالظُّهْرِ وَلَوْ خَرَجَ الْوَقْتُ وَهُمْ فِيْهَا أَتَمُّوْا هْوْاً وَوَاً

Artinya, “Ketika waktu zhuhur sudah padat, maka wajib melakukan takbiratul ihram dengan niat zhuhur. Jika waktu zhuhur keluar saat gereja sedang sholat Jum’at, mereka harus menyelesaikannya dengan mendengarkan sholat tanpa niat. ulangi. “(Sheikh Habib Muhammad bin Ahmad al-Syathiri, Syarh al-Yaqut al-Nafis, hal. 236)

2. Diimplementasikan di kawasan pemukiman

Sholat Jum’at harus dilakukan di daerah pemukiman ketika tidak diijinkan untuk melakukan sholat rukhsah di Qashar masyarakat bagi para pelancong. Tempat pelaksanaan pada hari Jum’at tidak harus berupa gedung atau masjid. Dapat dilakukan di lokasi dengan tetap berada dalam batas wilayah pemukiman.

Syekh Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali berkata:

ولا يشترط أن يعقد الجمعة في ركن أو مسجد بل يجوز في الصحراء إذا كان معدودا من عدودا من من من بلد فام مسجد بل يجوز في في الصحراء إذا كان معدودا من عدودا من يا البلد منام مسجد مسجد بل يجوز في الصحراء إذا كان معدودا من عدودا من خطة البلد مام مسجد بلد ميف

Artinya: “Jum’at tidak harus dilangsungkan di masjid atau mesjid, bahkan bisa dilangsungkan di lapangan jika masih menjadi bagian dari pemukiman penduduk. Jika jauh dari pemukiman penduduk dan wisatawan bisa rukhshah di tempat ini, maka tidak sah menggelar hari Jumat di tempat ini. “(Al-Ghazali, al-Wasith, juz.2, hal.263)

3. Raka’at pertama pada hari Jumat harus dilaksanakan di gereja

Minimal pelaksanaan jamaah sholat Jum’at terjadi pada siklus pertama, sehingga jika pada siklus kedua sholat Jum’at ada niat untuk menunaikan Mufaraqah (terpisah dari Imam) dan Jum’at secara individual maka shalat Jum’at dinyatakan sah. .

4. Jemaat Sholat Jum’at adalah mereka yang diwajibkan untuk merayakan hari Jumat

Gereja Jum’at yang meratifikasi hari Jum’at adalah warga yang tinggal di sekitar tempat Jum’at berlangsung. Saat ini jumlah jemaah haji di Jum’at mencapai 40 orang, menurut pendapat kuat Sekolah Syafi’i. Menurut pendapat lain cukup untuk 12 orang, versi lain cukup untuk 4 orang.

Al-Jamal al-Habsyi, dikutip oleh Sheikh Abu Bakar bin Syatha, mengatakan:

قال الجمل الحبشي فاذا علم العامي أن يقلد بقلبه من يقول من أصحاب الشافعي بإقامتها بأربعة أربعة أوسر باسر من فيديو

Artinya: “Kata Syekh al-Jamal al-Habsyi; Jika orang awam tahu di dalam hatinya untuk beriman kepada ulama Syafi’i-Ashab, yang menderita pelaksanaan hari Jumat dengan 4 atau 12 orang, maka itu bukan masalah, karena tidak ada kesulitan (Syekh Abu Bakar bin Syatha, Jam’u al-Risalatain, hal. 18).

Tidak termasuk jemaah yang mengkonfirmasi hari Jumat, orang yang tidak tinggal di area pelaksanaan pada hari Jumat, pelancong dan wanita, meskipun mereka sah pada hari Jumat.

5. Tidak sebelum atau ditemani hari jumat lagi di desa

Sholat Jum’at hanya bisa dilakukan satu kali dalam satu kecamatan. Jika ada dua jumat di suatu desa, maka jumat yang sah adalah jumat pertama takbiratul ihram sedangkan jumat kedua tidak sah. Jika Takbiratul ihramnya sama, dua hari Jumat itu tidak sah.

Dalam hal ini tidak perlu mengimplementasikannya dua kali. Jika maksudnya jarak kedua venue terlalu jauh, maka akan sulit untuk mengumpulkan jamaah Jum’at di satu tempat karena kapasitas venue, ketegangan kelompok, dan lain-lain tidak mencukupi. Kemudian kedua hari Jumat berlaku, hari pertama dan terakhir.

Syekh Abu Bakar bin Syatha ‘berkata:

والحاصل أن عسر اجتماعهم المجوز للتعدد إما لضيق المكان او لقتال بينهم او لبعد أطراف المحل بالشرط

Artinya, “Ringkasnya, bisa dikatakan sulit untuk berkumpulnya jamaah Jum’at yang memungkinkan rangkaian pelaksanaan Jum’at, kadang karena sempitnya tempat, perselisihan antar warga daerah atau jarak tempat menurutnya. dengan kondisi. ” (Sheikh Abu Bakr bin Syatha, Jam’u al-Risalatain, hal. 4).

6. Kedua khotbah itu didahului

Sebelum salat Jumat dilaksanakan, dua khutbah harus diberikan terlebih dahulu. Ini berdasarkan hadits Nabi:

أَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ الْجُمُعَةِ قَائِمًا ثُمَّ يَجْلِ

Artinya: Rasulullah saw. Berdakwah berdiri pada hari Jum’at lalu duduk dan bangun kembali. (Hadits muslim nomor 1425).

Demikian materi singkat tentang; Persyaratan hukum untuk memahami shalat Jumat. Semoga bisa bermanfaat dan menambah wawasan kita semua. Terima kasih.

Lihat Juga : https://www.dutadakwah.co.id/bacaan-tawasul-arab-ringkas/